Usia Perempuan Menikah Dalam Al-Qur’an: Analisis Double Movement Fazlur Rahman

Rp90.000

Only 3 item(s) left in stock.
+
  •  Tanya Kami

    Usia Perempuan Menikah Dalam Al-Qur’an: Analisis Double Movement Fazlur Rahman

    Rp90.000

    Tanya Kami

      ... Orang melihat ini sekarang

      Share
    Keamanan Transaksi TerjaminTrust

    Judul : Usia Perempuan Menikah Dalam Al-Qur’an: Analisis Double Movement Fazlur Rahman

    Penulis : Muhammad Abdul Hanif

    Sinopsis Buku :

    Islam tidak memberikan batasan pasti berapa usia ideal bagi seseorang untuk melakukan pernikahan. Utamanya, apabila telah memenuhi syarat dan rukun nikah, maka siapapun boleh dinikahkan.[1] Tema tentang usia menikah juga hampir tidak ditemukan di dalam Al-Qur’an, karena memang tidak ada ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan secara eksplisit tentang tema tersebut. Di kalangan ulama klasik, hanya kalangan ulama fikih yang membahas tema ini dan masing-masing memiliki perbedaan dalam menentukan usia menikah. Namun, bagi kalangan ulama fikih, penetapan usia menikah bukanlah persoalan yang krusial. Sebagaimana Imam Syafi’i mengatakan, bahwa batasan usia menikah sebenarnya tidak ada dalam hukum Islam. Ia juga tidak melarang pada usia berapa seseorang diperbolehkan melangsungkan pernikahan. Hanya saja, ia menganjurkan seseorang yang boleh melakukan pernikahan yaitu ketika berusia sudah akil balig.[2]

    Dalam pengertian ulama salaf, usia akil balig adalah batas usia dimana seseorang mulai menjadi mukalaf dan berkewajiban mematuhi hukum-hukum syariat, yang ditandai dengan mimpi basah bagi anak laki-laki atau telah mengalami datang bulan (menstruasi) bagi anak perempuan.[3] Para imam mazhab juga telah menetapkan usia menikah sesuai dengan pendapatnya masing-masing. Pendapat ini dipengaruhi oleh lingkungan dan kultur di tempat mereka tinggal.[4] Imam Syafi’i dan Hambali, berpendapat bahwa usia menikah adalah usia 15 tahun, sedangkan Imam Hanafi berpendapat yaitu usia 19 tahun bagi perempuan dan 17 tahun bagi laki-laki, dan Imam Malik berpendapat yaitu usia 18 tahun baik bagi laki-laki maupun perempuan.[5] Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa para imam mazhab tidak menjadikan nilai kedewasaan sebagai syarat dalam pernikahan. Para imam mazhab, hanya mensyaratkan orang yang akan menikah harus sampai usia akil balig.

    [1]Mukti Ali, dkk., Fikih Kawin Anak: Membaca Ulang Teks Keagamaan Perkawinan Usia Anak-Anak,  Jakarta: Rumah Kitab, 2016, hal. 13.

    [2]Muhammad Jawad Mughniyah, Fikih Empat Mazhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, terj. Afif Muhammad, Jakarta: Lentera, 2004, hal. 315.

    [3]Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir: Aqidah, Syari’ah dan Manhaj Jilid 2, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie Al-Kattani, dkk. dalam judul at-Tafsîrul Munîr fî al-’Aqîdah wa asy-Syarî’ah wa al-Manhâj, Jakarta: Gema Insani, 2005, hal. 589.

    [4]Imam Hanafi tinggal di Kufah, Iraq. Imam Malik tinggal di Madinah. Imam Syafi’i tinggal berpindah-pindah tempat, mulai dari Madinah, Baghdad, Hijaz dan Mesir. Sedangan Imam Ahmad tinggal di Baghdad. Lihat Nur Ihdatul Musyarrafah dan Subehan Khalik, “Batas Usia Pernikahan dalam Islam: Analisis Ulama Mazhab  terhadap Batas Usia Nikah”, dalam Jurnal Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab, Vol. 1 No. 3, September, 2020 , hal. 715.

    [5]Nur Ihdatul Musyarrafah dan Subehan Khalik, “Batas Usia Pernikahan dalam Islam: Analisis Ulama Mazhab  terhadap Batas Usia Nikah”, dalam Jurnal Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab, Vol. 1 No. 3, September, 2020 , hal. 703-719.

    Based on 0 reviews

    0.00 Overall
    0%
    0%
    0%
    0%
    0%
    Be the first to review “Usia Perempuan Menikah Dalam Al-Qur’an: Analisis Double Movement Fazlur Rahman”

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Reviews

    There are no reviews yet.

    Close Keranjangku
    Close Daftar Keinginan
    Recently Viewed Close
    Close

    Close
    Navigation
    Kategori